Tekanan terhadap sumber daya air juga mengubah kualitas air menjadi makin buruk. Salah satu penyebabnya adalah pencemaran pada air permukaan dan air bawah permukaan, seperti terjadinya eutrofikasi di danau. Intrusi air laut ke daratan menyebabkan salinitas air di sumur milik penduduk meningkat. Kebocoran limbah industri ke sungai dan lahan pertanian makin memberikan tekanan pada lingkungan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, sumur dangkal milik penduduk telah tercemar bakteri E. coli dari kotoran manusia akibat kebocoran septic tank.

Kebutuhan air makin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan ragam kebutuhan yang menuntut sumber daya air dalam jumlah banyak, baik untuk rumah tangga, industri, irigasi, penggelontoran, energi, rekreasi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Indeks penggunaan air (IPA) atau rasio kebutuhan dan ketersediaan air sudah melebihi 1, artinya sumber daya air yang ada sudah tidak cukup untuk menopang kebutuhan penggunaannya. Depkimpraswil mencatat IPA untuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan Cisadane sudah melampaui 1,2 (129,4%) pada tahun 1995. Pada tahuntahun terakhir, indeks tersebut diperkirakan makin meningkat karena pertumbuhan jumlah penduduk, perkembangan sektor industri, energi dan rumah tangga, sementara potensi ketersediaan air cenderung menurun.

Pemanfaatan air secara nasional telah mencapai sekitar 80 miliar m3/tahun, dengan tingkat pemanfaatan tertinggi di Jawa dan Bali, yaitu sekitar 60%. Dalam 5 tahun terakhir, pemanfaatan air diperkirakan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan ragam kebutuhan air. Penggunaan air tawar di Indonesia didominasi untuk pertanian, sekitar 76%, dan sisanya untuk industri (11%) dan domestik (3%).
Peningkatan kebutuhan air setiap sektor makin menekan potensi pasokan air yang tersedia, dan ini berdampak pada makin meningkatnya potensi konflik antarsektor. Sektor pertanian merupakan pengguna air terbesar di antara sektor pengguna air. Sebagai gambaran, di pantai utara Jawa Barat, untuk mengairi sawah irigasi dibutuhkan 5.592 juta m3 air/tahun. Sementara itu, kebutuhan air untuk domestik, rumah tangga dan industri (domestic municipal and industry/DMI) sekitar 952 juta m3.

Peningkatan kebutuhan air akibat pertumbuhan penduduk (1,6%/tahun), perkembangan sektor industri, dan perbaikan taraf hidup masyarakat, menyebabkan kebutuhan air untuk DMI pada tahun 2025 diproyeksikan naik 3,5 kali lipat menjadi 3.311 juta m3. Sektor pertanian, domestik, rumah tangga, dan industri mendapatkan sebagian besar air dari waduk. Oleh karena itu, pemenuhan air untuk DMI akibat peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan pembangunan pada masa mendatang (tahun 2025) akan mengambil porsi air untuk pertanian sekitar 25%, sehingga secara langsung akan mengganggu kinerja sistem produksi pertanian. Meskipun kelangkaan air dan konflik air antarsektor sudah terjadi dan dirasakan langsung petani, pemerintah belum memberikan perhatian dan penanganan secara proporsional. Dalam jangka panjang, konflik horizontal maupun vertikal dalam alokasi dan distribusi air akan memerlukan tenaga, waktu, dan biaya yang sangat mahal untuk pemecahannya.

Dalam hukum Islam, konsep pembagian air secara proporsional yang melibatkan banyak pemangku kepentingan pada dasarnya menggunakan asas urutan prioritas, yaitu: (1) hak untuk memuaskan kedahagaan (haq al shafa); (2) domestik termasuk di dalamnya untuk hewan; (3) sektor pertanian; dan (4) komersial dan industri. Untuk mengalokasikan dan mendistribusikan air secara proporsional dan mengurangi konflik antarsektor pengguna air, kebutuhan air setiap sektor harus ditetapkan, dan jaringan distribusi air harus dibangun secara luas. Identifikasi, karakterisasi, dan penetapan kebutuhan air serta sosialisasi hasil penetapan proporsi kebutuhan tersebut pada setiap sektor pengguna air perlu segera dilakukan.

Alokasi air untuk sektor pertanian, rumah tangga, domestik, industri, dan lingkungan diatur sesuai dengan kaidah pengelolaan sumber daya air, yang intinya untuk mengendalikan keseimbangan sumber daya air dengan memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup, dan kepentingan ekonomi secara selaras. Dengan memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk, kontribusi sektor pertanian, air minum, industri, serta potensi lestari pemanfaatan mata air dan lingkungan, dapat ditetapkan alokasi penggunaan air masing-masing pemangku kepentingan. Alokasi penggunaan air yang dimaksud harus mempertimbangkan potensi sumber daya air dalam hal volume yang tersedia menurut ruang dan waktu, serta permintaan dari berbagai pemangku kepentingan dengan segala konsekuensi logis dan risiko paling minimum.

Download: Pemanfaatan sumber mata air - PDF